BEM FISIP UNISMUH: Dari Mahasiswa, oleh Mahasiswa, tapi untuk siapa?
Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan jujur, jika di ibaratkan sesuatu hal, BEM FISIP UNISMUH hari ini membuat kita seperti sedang menonton sinetron yang mempunyai alur itu-itu saja. Begitulah kira-kira yang dirasakan ketika melihat kinerja BEM FISIP Unismuh Makassar di bawah kepemimpinan Saudara Rifky Nur Ichwan. Hampir satu periode berjalan, tapi program kerja yang terealisasi bisa dihitung jari atau mungkin hanya satu jari saja yang dibutuhkan.
Maka sebagai representasi mahasiswa, BEM seharusnya menjadi orkestra yang menyuarakan aspirasi, bukan sekadar paduan suara yang menyanyikan lagu yang sama setiap tahun. Namun yang terjadi, BEM per hari ini lebih sering terlihat seperti penonton setia di acara seremonial, tersenyum simpul di setiap jepretan kamera, lalu menghilang bak ditelan bumi setelah tirai ditutup. Sungguh ironi yang mengelitik.
Maka kiranya ayat ini bisa menjadi satu acuan mengapa tulisan ini dibuat, bahwa didalam Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd ayat 11 Allah Subhanahu Wa ta'ala menyampaikan :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini, meski sudah sering kita dengar, tetap relevan dengan kondisi BEM kita. Jika kita ingin melihat perubahan yang signifikan, maka BEM harus berani melakukan metamorfosis, keluar dari kepompong zona nyaman, dan mulai bekerja nyata untuk kepentingan mahasiswa. Jangan hanya sibuk membuka ruang legitimasi untuk bertemu petinggi-petinggi pemerintah, sementara aspirasi mahasiswa menjerit dalam sunyi.
Kondisi ini bisa kita analisis menggunakan Teori Alienasi Karl Marx. Marx menjelaskan bahwa alienasi terjadi ketika individu terasing dari hasil kerjanya, proses kerja, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Dalam konteks BEM, mahasiswa merasa teralienasi karena BEM yang seharusnya menjadi representasi mereka, justru lebih fokus pada kepentingan eksternal (petinggi kampus/pemerintah) daripada kepentingan internal (mahasiswa). Akibatnya, mahasiswa merasa suara mereka tidak didengar, kebutuhan mereka tidak dipenuhi, dan BEM menjadi entitas yang asing.
Krisis Identitas Gerakan Mahasiswa
Kondisi BEM FISIP Unismuh saat ini mencerminkan adanya krisis identitas gerakan mahasiswa. BEM bukan sekadar pelengkap organisasi kampus, bukan pula sekadar ajang mencari popularitas atau koneksi instan. BEM adalah laboratorium intelektual dan sosial mahasiswa. Ketika suara mahasiswa teredam, ketika isu-isu strategis dibiarkan tanpa respons, maka fungsi utama BEM telah kehilangan esensinya.
Dulu, gerakan mahasiswa begitu garang, berani mengkritik kebijakan yang tidak memihak rakyat, tidak memihak mahasiswa dan bahkan rela turun ke jalan demi menyuarakan kebenaran. Tapi, di mana semangat itu kini?Apakah mereka sudah terlalu nyaman dengan status quo, sehingga lupa akan peran kita sebagai agen perubahan? Hal yang berubah hari ini adalah gerakan BEM itu sendiri dan tentunya perubahan itu menuju kearah sesuatu yang sangat-sangat tidak diinginkan karena sangat kurang memberikan Kebermanfaatan.
Antara Tamu VIP atau Arsitek Perubahan
Salah satu pemandangan yang cukup menggelitik adalah ketika BEM hanya berperan sebagai tamu VIP di acara seremonial. Dia Menghadiri acara tanpa memberikan kontribusi berarti, tanpa memberikan masukan konstruktif, membuat keberadaan BEM terasa seperti pajangan belaka.
BEM seharusnya hadir bukan hanya sebagai simbol formalitas, tapi sebagai arsitek perubahan yang merancang solusi konkret bagi kehidupan kampus dan mahasiswa secara umum. BEM harus berani menginisiasi diskusi-diskusi cerdas, mengadvokasi kebijakan yang pro-mahasiswa, dan memberikan solusi inovatif terhadap masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa.
Antara Kuantitas dan Kualitas
Isu lain yang tak kalah menarik adalah komposisi pengurus BEM yang mayoritas tidak memiliki akar kaderisasi dari himpunan mahasiswa jurusan. Minimnya keterlibatan kader himpunan membuat BEM kehilangan fondasi gerakan yang kokoh.
Kaderisasi di himpunan sejatinya menempa kepekaan sosial, kemampuan analisis isu, serta semangat juang mahasiswa, inilah nilai-nilai yang menjadi modal utama dalam mengemban amanah organisasi BEM.
Ketika BEM diisi oleh individu-individu yang tidak tumbuh dari proses kaderisasi yang matang, maka arah gerakan pun menjadi kabur, seperti kapal tanpa kompas. Tidak ada semangat kolektif, tidak ada pemahaman mendalam tentang kultur perjuangan mahasiswa, dan akhirnya, tidak ada keberanian untuk bersuara lantang atas ketidakadilan yang terjadi.
Hal ini mengindikasikan adanya masalah dalam Teori Kepemimpinan Transformasional. Kepemimpinan transformasional menekankan pada kemampuan pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama. Jika pengurus BEM tidak memiliki kemampuan ini, maka mereka tidak akan mampu menggerakkan mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi dan menyuarakan aspirasi mereka.
Evaluasi dan Akuntabilitas
Sudah saatnya kita melakukan evaluasi komprehensif terhadap kinerja dan arah gerakan BEM FISIP Unismuh di bawah kepemimpinan Saudara Rifky Nur Ichwan. Mahasiswa sebagai pemegang mandat harus kembali kritis, tidak apatis, dan berani menuntut akuntabilitas.
Jabatan organisasi tidak boleh dijadikan ajang pelarian dari tugas kuliah, melainkan harus dimanfaatkan untuk membawa perubahan yang signifikan. Jika BEM gagal memenuhi ekspektasi mahasiswa, maka sudah selayaknya dilakukan suksesi kepemimpinan.
Harapan untuk BEM yang Lebih Baik
Kiranya tiap kita punya harapan, maka harapan untuk BEM FISIP Unismuh yang lebih progresif. Yakni bagaimana BEM ke depan dapat menjadi wadah yang benar-benar representatif bagi mahasiswa, mampu menyuarakan aspirasi, mengadvokasi kepentingan mahasiswa, dan menjadi lokomotif perubahan positif di lingkungan kampus.
Harapan lain juga agar BEM ke depan diisi oleh individu-individu yang memiliki integritas, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi terhadap perjuangan mahasiswa. Individu-individu yang tidak hanya piawai beretorika, tapi juga mahir bekerja. Individu-individu yang tidak hanya mencari popularitas, tapi juga mencari solusi.
Akhirul kalam, mari kita bersama-sama membangun BEM FISIP Unismuh yang lebih gemilang. Jangan biarkan BEM kita menjadi sekadar organisasi yang medioker atau biasa-biasa saja yang tidak punya keistimewaan. Mari kita jadikan BEM sebagai organisasi yang punya kebermanfaatan lebih yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan kampus dan kesejahteraan mahasiswa.
Maka seharusnya tulisan ini bisa menjadi cambuk bagi pengurus BEM FISIP Unismuh. Jika masih punya sedikit rasa malu dan tanggung jawab, segera perbaiki diri dan organisasi itu. Jika tidak, lebih baik mundur saja dan biarkan orang lain yang lebih kompeten menggantikan gerak kepimpinan BEM.


Komentar
Posting Komentar